Selasa, 12 Mei 2026 – 23:03 WIB
Jakarta, VIVA – Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Surya Vandiantara menilai, pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap dollar Amerika Serikat (AS), tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Karena sebagian besar negara Asia juga turut mengalami tekanan nilai mata uang domestik.
Menurutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberhasilan AS dalam memenangkan perang opini atau sentimen atas konflik yang terjadi dengan Iran.
“Konflik yang terjadi antara AS dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya,” kata Surya dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Menurut, fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap dolar AS secara signifikan. “Tingginya tingkat permintaan terhadap dolar AS inilah yang kemudian menyebabkan nilainya melambung tinggi,” ujarnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah bila dibanding dengan negara lain sebenarnya masih relatif lebih baik. Data menunjukkan pelemahan Rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik AS-Iran.
Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen, dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sedangkan, Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.
Surya melihat, pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS itu terjadi dikarenakan pengaruh faktor eksternal, bukan karena faktor internal.
Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh para investor dan pelaku bisnis dalam negeri, yang mengikuti tren dunia untuk menggunakan dollar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar. Dimana pada akhirnya hal itu menekan jumlah permintaan Rupiah dan meningkatkan permintaan dollar AS.
“Di tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung stabil dan positif, serta necara perdagangan terhadap Amerika Serikat yang tercatat surplus, semakin mempertegas bahwa pelemahan nilai mata uang rupiah bukanlah dikarenakan faktor internal, melaikan faktor eksternal,” kata Surya.
Terkait tujuh langkah BI meredam pelemahan Rupiah, Surya menyebut hal itu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Apabila permintaan terhadap Rupiah meningkat, maka Rupiah akan mampu bersaing dengan tingginya angka permintaan dollar AS.
Halaman Selanjutnya
“Namun dibutuhkan komitmen dari para pelaku pasar, baik dari kalangan investor valuta asing maupun pelaku bisnis, untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai instrumen investasi dan alat tukar,” ujarnya.






