Nasional

Marak Kasus Pelecehan di Universitas, Golkar Minta Pimpinan Perguruan Tinggi Dievaluasi

×

Marak Kasus Pelecehan di Universitas, Golkar Minta Pimpinan Perguruan Tinggi Dievaluasi

Sebarkan artikel ini


Senin, 20 April 2026 – 12:12 WIB

Jakarta, VIVA – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji menyampaikan keprihatinan sekaligus kemarahan atas maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi yang kembali mencuat sepanjang April 2026. 


img_title


Nus Kei Tewas Ditikam, Golkar Minta Kader Tetap Waspada dan Tak Terpancing Situasi

Sejumlah kasus yang terjadi di Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Padjadjaran, Universitas Budi Luhur, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, hingga Institut Teknologi Bandung menunjukkan bahwa kampus tidak lagi dapat dianggap sebagai ruang aman dan nyaman bagi mahasiswa.

“Ini bukan lagi kasus satu-dua oknum. Ini adalah alarm keras bahwa kampus gagal menjalankan fungsi dasarnya sebagai ruang pendidikan yang aman. Kalau kasus terus berulang di berbagai perguruan tinggi, itu berarti ada yang salah secara sistemik, dan pimpinan kampus tidak mampu menciptakan atmosfer yang melindungi mahasiswa,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Senin, 20 April 2026.


img_title


Golkar Maluku Kutuk Penikaman Ketua DPD Maltra Nus Kei, Desak Polisi Usut Tuntas

Menurutnya, posisi mahasiswa yang lemah dalam relasi kuasa dengan rektor, dekan, maupun dosen membuat banyak korban memilih diam dan menerima keadaan. Ketimpangan ini, jika tidak diintervensi secara serius, akan terus melanggengkan praktik kekerasan seksual di lingkungan akademik. 


img_title


Polisi Dalami Motif Penikaman Ketua DPD Golkar Maluku Utara Nus Kei di Bandara

“Mahasiswa berada pada posisi yang rentan. Ketika perlindungan tidak hadir dari institusi, maka kampus justru menjadi tempat yang menakutkan, bukan tempat belajar,” katanya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar itu menekankan bahwa kejadian serupa bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, publik juga dikejutkan oleh berbagai kasus kekerasan seksual di sejumlah kampus ternama di Indonesia. 

Namun, pola yang berulang tanpa perbaikan signifikan menunjukkan lemahnya komitmen institusi dalam melakukan pembenahan menyeluruh. 

“Kita tidak boleh lagi menormalisasi kejadian seperti ini. Setiap kasus adalah kegagalan institusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kasus kekerasan seksual di kampus juga harus dipahami sebagai fenomena yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan. 

“Apa yang terungkap ke publik hari ini hanyalah fenomena puncak gunung es—yang tampak hanya sebagian dari yang sebenarnya,” katanya.

Fraksi Partai Golkar, katanya, mendorong adanya kebijakan yang lebih tegas, termasuk kemungkinan pemberian sanksi kepada pimpinan tertinggi perguruan tinggi apabila terbukti gagal menciptakan lingkungan kampus yang aman. 

Halaman Selanjutnya

“Perlu dipikirkan mekanisme sanksi yang jelas. Jika di sebuah kampus terjadi kasus pelecehan seksual, maka pimpinan tidak bisa lepas tangan. Itu adalah indikator kegagalan kepemimpinan,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya





Source link