Selasa, 5 Mei 2026 – 19:04 WIB
VIVA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkoordinasi dengan Amerika Serikat (AS) mengenai potensi serangan baru terhadap Iran menyusul ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz yang mengancam gencatan senjata, demikian dilaporkan CNN pada hari Selasa, mengutip sebuah sumber Israel.
Koordinasi tersebut mencakup persiapan untuk kemungkinan serangan singkat yang menargetkan infrastruktur energi dan pejabat senior Iran, kata sumber tersebut kepada CNN.
“Tujuannya adalah untuk melakukan kampanye singkat yang bertujuan untuk menekan Iran agar memberikan konsesi lebih lanjut dalam negosiasi,”kata sumber tersebut.
Laporan tersebut mengatakan bahwa banyak rencana telah disiapkan sebelum gencatan senjata pada awal April, tetapi keputusan untuk melanjutkan permusuhan bergantung pada Presiden Donald Trump.
Pada Minggu malam, Netanyahu memberikan pengarahan kepada para komandan militer senior bahwa Israel untuk bersiap konfrontasi dengan Iran dan akan melanjutkan upaya untuk membubarkan Hamas, menurut Channel 14.
Selama pertemuan dengan para pejabat militer Israel tingkat atas, Netanyahu mengatakan Iran akan keluar dari perang saat ini dalam kondisi lebih lemah dari sebelumnya, sementara Israel akan jauh lebih kuat.
Ia menanggapi klaim tentang kemungkinan keruntuhan rezim Iran yang cepat, dengan mengatakan tidak ada jaminan bahwa rezim tersebut akan jatuh pada awal konflik apa pun. Namun, ia menekankan bahwa tekanan ekonomi yang berat menciptakan kondisi yang dapat menyebabkan hasil seperti itu.
Netanyahu menilai kepemimpinan Iran saat ini sangat memprihatinkan dan keruntuhan ekonomi dapat secara langsung mengancam stabilitas rezim, merujuk pada protes yang terjadi setelah operasi sebelumnya.
Mengenai program nuklir Iran, ia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump percaya dengan “keyakinan besar” bahwa tekanan ekonomi yang intens dapat memungkinkan untuk mengekstrak bahan-bahan yang diperkaya yang terkubur jauh di bawah tanah di Iran.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada Senin, 4 Mei 2026, setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.
Bentrok terbaru terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang kini praktis lumpuh akibat blokade dan aksi militer kedua pihak. Serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam sejumlah target, termasuk kapal dan fasilitas energi.
Halaman Selanjutnya
Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru bertajuk “freedom project” yang bertujuan mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.






