Rabu, 6 Mei 2026 – 00:18 WIB
Jakarta, VIVA – Isu keselamatan nelayan jarang menjadi sorotan utama dalam layar lebar. Namun, film dokumenter All That Separates Us Is Distance hadir membawa perspektif berbeda dengan mengangkat sisi kemanusiaan di balik profesi yang penuh risiko tersebut. Kini, film ini mulai diputar di Indonesia dan diharapkan dapat memicu diskusi lebih luas, tidak hanya soal keselamatan kerja, tetapi juga kesetaraan dalam sektor perikanan.
Diproduksi atas inisiatif Lloyd’s Register Foundation, dokumenter ini mengambil lokasi di tiga negara, termasuk Indonesia. Salah satu titik pengambilan gambar dilakukan di Pelabuhan Ratu, yang dikenal sebagai kawasan nelayan dengan dinamika kehidupan laut yang kuat. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Dalam versi Indonesia, sosok utama yang diangkat adalah M. Nurafandi atau yang akrab disapa Dede Sinar. Ia digambarkan sebagai representasi nelayan yang tidak hanya berjuang di laut, tetapi juga menjadi tulang punggung bagi keluarga dan komunitasnya. Ceritanya berjalan beriringan dengan dua tokoh lain dari Ghana dan Inggris, memperlihatkan bahwa meski berbeda negara, risiko dan tantangan yang dihadapi nelayan memiliki kesamaan.
Film ini tidak sekadar menampilkan aktivitas melaut, tetapi juga menyelami kehidupan keluarga nelayan, tekanan ekonomi, hingga harapan yang mereka gantungkan pada laut. Dengan pendekatan tersebut, dokumenter ini mencoba menggeser sudut pandang publik—dari sekadar melihat nelayan sebagai pekerja berisiko tinggi, menjadi manusia dengan cerita yang kompleks.
![]()
Head of Research on Maritime Law, Policy, and Governance Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI), Setyawati Fitrianggraeni, menilai film ini sejalan dengan upaya mendorong sistem maritim yang lebih aman dan berkelanjutan.
“GISLI adalah ajakan bergerak bersama untuk mewujudkan ekosistem maritim yang lebih selamat dan beretika. Kami percaya bahwa kerangka hukum dan tata kelola mencapai efektivitas tertingginya ketika memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan setiap individu yang bergantung pada laut,” kata Setyawati dalam keterangannya, dikutip Rabu 6 Mei 2026.
Sementara itu, dari sisi produksi, Head of Maritime Systems Lloyd’s Register Foundation, Olivia Swift, menekankan pentingnya menghadirkan narasi yang lebih manusiawi dalam membahas isu nelayan.
Halaman Selanjutnya
“Pemberitaan tentang nelayan sering berbicara soal risiko, tapi di balik itu ada manusia dengan harapan, keluarga dan komunitas. Sangat penting untuk menceritakan kisah mereka dan membiarkan suara mereka didengar,” katanya.






