Nasional

AS dan Iran Berebut Kendali Selat Hormuz, Project Freedom Trump Picu Eskalasi Baru

×

AS dan Iran Berebut Kendali Selat Hormuz, Project Freedom Trump Picu Eskalasi Baru

Sebarkan artikel ini


Selasa, 5 Mei 2026 – 08:34 WIB

VIVA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada Senin, 4 Mei 2026, setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.


img_title


Memanas! Iran Sebut Serangan Fujairah Akibat Ulah Militer AS

Bentrok terbaru terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang kini praktis lumpuh akibat blokade dan aksi militer kedua pihak. Serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam sejumlah target, termasuk kapal dan fasilitas energi.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru bertajuk “freedom project” yang bertujuan mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.


img_title


IRGC Rilis Peta Baru Selat Hormuz di Bawah Kendali Mereka, Sinyal Perang dengan AS?

Namun, langkah tersebut justru memperkeruh situasi. Hingga Senin, sejumlah kapal dagang melaporkan ledakan dan kebakaran di perairan Teluk. Militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran, sementara sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab dilaporkan terbakar akibat serangan rudal Iran.

Dalam pernyataan di media sosial Truth Social, Trump bahkan menyebut AS telah menembak jatuh tujuh kapal Iran, yang ia klaim sebagai “sisa kekuatan” Teheran di laut. Namun, Iran membantah klaim tersebut.


img_title


Selat Hormuz Membara! Iran Serang Kapal dan Pelabuhan Minyak UEA, Misi Trump Justru Picu Eskalasi Baru

Project Freedom” sendiri menuai kontroversi di dalam negeri AS. Program ini diumumkan setelah tenggat waktu hukum bagi Presiden Trump untuk memperoleh persetujuan Kongres dalam operasi militer telah terlewati. Trump bersikeras bahwa perang telah “berakhir”,  klaim yang ditentang sejumlah anggota parlemen.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz berada di tangan mereka. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa persetujuan Teheran.

Otoritas Iran telah nerilis peta yang menurut mereka merupakan perluasan wilayah laut yang sekarang berada di bawah kendali Tehera, yang meluas jauh melampaui selat tersebut hingga mencakup bentangan panjang garis pantai UEA.

Alih-alih meredakan ketegangan, langkah terbaru Washington dinilai justru menjadi bumerang. Perusahaan pelayaran global memilih menahan diri untuk tidak melintasi jalur tersebut, menunggu adanya kesepakatan damai yang lebih jelas. Biaya asuransi pengiriman pun melonjak tajam.

Halaman Selanjutnya

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa krisis ini tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan militer. Ia mengungkapkan bahwa pembicaraan damai tengah berlangsung dengan mediasi Pakistan.

Halaman Selanjutnya





Source link