Selasa, 5 Mei 2026 – 09:28 WIB
Jakarta, VIVA – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada April 2026 yang menurun atau melandai ke level 2,42 persen (yoy) dibanding bulan sebelumnya merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi antarpemangku kepentingan. Yaitu, BI bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).
Di samping itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, inflasi yang terjaga juga didukung oleh penguatan implementasi program ketahanan pangan nasional.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027,” kata Denny dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Selasa, 5 Mei 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (4/5), IHK pada April 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (month to month/mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 2,42 persen (year on year/yoy) atau lebih rendah dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,48 persen (yoy).
Inflasi inti pada April 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,13 persen (mtm).
Perkembangan inflasi inti tersebut didorong oleh komoditas minyak goreng seiring kenaikan harga komoditas crude palm oil (CPO) global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Secara tahunan, inflasi inti pada April 2026 tercatat 2,44 persen (yoy), menurun dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,52 persen (yoy).
Selanjutnya, kelompok volatile food pada April 2026 mengalami deflasi sebesar 0,88 persen (mtm), lebih rendah dari realisasi pada bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,58 persen (mtm).
Deflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan aneka cabai seiring normalisasi permintaan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri dan berlangsungnya panen raya di daerah sentra produksi. Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 3,37 persen (yoy), lebih rendah dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 4,24 persen (yoy).
BI menyampaikan bahwa ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Halaman Selanjutnya
Adapun kelompok administered prices pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,31 persen (mtm).






